Koin Terakhir
Judul Buku: Koin Terakhir
Pengarang: Yogie Nugraha
Penyunting: Mahfud Ikhwan
Tebal: viii + 296 hlm; 20,5 cm
Cetakan: 1, Juli 2013
Penerbit: Bentang
Sebelum kematiannya di Les Deux Magots Café-Paris, Daniel Hehalatu menampilkan suatu koin terhadap seorang cowok yang kebetulan berada di sana. Koin lima puluh markkaa Finlandia itu bukanlah sembarang koin. Daniel sudah memodifikasi koin itu dan menyembunyikan microchip berisi dokumen yang dicurinya di saat melakukan pekerjaan di Direktorat Pengendalian Persandian Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg). Dokumen itu juga bukan sembarang dokumen alasannya merupakan dokumen diam-diam yang sudah dilindungi negara selama puluhan tahun. Jika dokumen itu hingga bocor ke media, potensial bikin krisis keselamatan nasional di Indonesia. Kematian Daniel -yang melarikan diri menggunakan paspor palsu- di Paris ditarik kesimpulan alasannya terkena serangan jantung kendati ia tak mempunyai riwayat penyakit jantung.
Zen Wibowo, distributor Badan Intelejen Negara (BIN) yang dipahami dengan daya ingatnya yang fotografis dan menguasai enam bahasa, diperintahkan untuk mendapatkan koin itu. Ia tidak menolak kiprah walaupun sedang dalam antisipasi komitmen nikah dengan kekasihnya, Arcelia Nasution. Maka, dari Jakarta, Zen pergi ke kota wilayah Daniel meninggal untuk mendapatkan koin itu. Pemuda yang mendapatkan koin merupakan seorang mahasiswa Université Paris 1 Panthéon-Sorbonne asal Swiss.
Zen sukses mendapatkan mahasiswa itu, tetapi tidak koinnya. Si mahasiswa sudah menampilkan koin itu terhadap seorang pastor Spanyol yang mengikuti suatu pertemuan di Paris dan sudah meninggalkan Paris. Satu-satunya isyarat merupakan pastor itu berasal dari Selville, Spanyol.
Dari Paris, menyamar selaku wartawan, Zen pergi ke Selville untuk menemui Bapa Sergio Hernandez. Sayangnya, Bapa Sergio sedang tidak berada di tempat. Ia pergi ke Vatikan untuk menghadiri audiensi biasa pribadi dari Paris. Setelah mengerahkan semua upayanya, Zen mendapatkan kenyataan jikalau koin sudah berpindah tangan lagi. Zen masih mesti meretas perjalanan ke London bahkan ke Arbat Lama, Mokswa, untuk mengejar-ngejar koin itu. Perjalanannya tidak akan berlangsung mulus, alasannya bahkan di ujung perjalanannya, ia akan mengalami pengkhianatan yang potensial menggagalkan misinya. Karena selain BIN, ternyata ada pihak lain yang juga berhasrat mempunyai koin itu.
Meskipun dongeng penelusuran koin itu betul-betul ditamatkan, Yogie Nugraha -sang pengarang novel Koin Terakhir- masih menyisihkan pertanyaan yang belum terjawab di kepingan Epilog. Tampaknya, novel ini tidak dimaksudkan untuk menjadi satu-satunya novel petualangan Zen Wibowo. Adanya sekuel tentunya akan lebih bikin puas pembaca yang sudah menikmati Koin Terakhir.
Membaca novel ini merupakan pengalaman yang sungguh menyenangkan. Yogie menulis dengan baik dan menerapkan prinsip ekonomi kata-kata sehingga menciptakan dongeng yang mengalir tanpa kendala tanpa bikin kebosanan. Bahkan, dongeng mengenai Arcelia Nasution yang tidak terkait kiprah Zen tetap lezat diikuti. Rasa ingin tau sukses ditumbuhkan sejak kepingan Prolog dan kian meningkat seiring perguliran plot yang mendatangkan ketegangan yang dijaga dengan baik. Memang belum serumit karya pengarang-pengarang novel thriller kaliber dunia, tetapi Yogie sudah menampilkan kesanggupan yang tidak banyak dimiliki pengarang-pengarang Indonesia lainnya.
Satu hal yang memanggil pertanyaan merupakan penyebab maut Daniel Hehalatu alasannya penggunaan diazepam yang berlebihan sehingga bikin jantung Daniel berhenti. "Dua atau tiga tetes diazepam bisa bikin teler, namun pemakaian lebih dari enam tetes akan menghentikan jantung kurang dari tiga menit," kata polisi Prancis (hlm. 90). Jadi, apakah bentuk sediaan diazepam yang dipakai untuk membunuh Daniel? Tetes untuk diminum (guttae) ? Atau sirup? :)
Menurut ratifikasi Yogie (dalam Pengantar Penulis), ia menulis Koin Terakhir karena dipicu suatu postingan mengenai pertemuan yang dijalankan pada November 1967 di Jenewa, Swiss. Pertemuan tersebut dijalankan antara perwakilan Indonesis dengan 'raja-raja ekonomi dunia' menyerupai David Rockefeller dan perwakilan dari korporasi-korporasi transnasional menyerupai General Motors, Imperial Chemical Industries, British Leyland, British American Tobacco, American Express, Siemens, Goodyear, The International Paper Corporation, Freeport, Alcoa, dan US Steel. Fakta-fakta yang terungkap dari pertemuan tersebut sungguh mencengangkan dan bikin Yogie terusik. Ia jadi bertanya-tanya apakah perwakilan Indonesia yang dikirim ke pertemuan itu sungguh-sungguh mempunyai pengertian yang komprehensif mengenai ekonomi. Apa yang terjadi di Konferensi Jenewa tahun 1967 yang dirancang untuk menggantikan kekayaan Indonesia ini diangkat ke dalam film dokumenter bertajuk The New Rulers of the World oleh Alan Lowery dengan jurnalis John Filger selaku presenter (2001). Menyusul film dokumenternya, Pilger sudah mempublikasikan kumpulan esai dengan judul yang serupa (2002).
Apa kaitannya Konferensi Jenewa November 1967 ini dengan pertentangan dalam Koin Terakhir, cuma akan Anda pahami dengan membaca sendiri novel perdana Yogie Nugraha ini.
Apa kaitannya Konferensi Jenewa November 1967 ini dengan pertentangan dalam Koin Terakhir, cuma akan Anda pahami dengan membaca sendiri novel perdana Yogie Nugraha ini.
